Melestarikan warisan bahari Nusantara sejak 1981. Dari koleksi pribadi menjadi pusat informasi Conchology & Malacology, serta wadah kepedulian sosial bagi anak-anak terlantar.
Propinsi Nusa Tenggara Timur sebagai daerah kepulauan sebagian besar terdiri dari wilayah perairan (laut), memiliki kandungan laut yang beraneka ragam, bentuk, ukuran, warna, serta jenisnya. Hal ini perlu dilestarikan dengan penanganan yang profesional dalam rangka menunjang bidang kepariwisataan dan ilmu pengetahuan. Propinsi NTT pada umumnya dan Kabupaten Ende khususnya belum memiliki Museum Bahari atau sejenisnya sebagai tempat yang menyimpan atau mengoleksi barang-barang laut, ikan-ikan, dan lain sebagainya.
Secara pribadi, sejak tahun 1981 hingga hari ini, telah mengumpulkan atau mengoleksi barang-barang laut dan bahan-bahan dari laut lainnya dari berbagai jenis, bentuk, ukuran, dan warna yang beraneka ragam dalam jumlah yang banyak dan dianggap lebih dari cukup untuk koleksi sebuah museum. Telah memiliki sejumlah buku mengenai kerang-kerang laut dan ikan-ikan dalam beberapa bahasa, diantaranya: BAHASA INDONESIA, BAHASA BELANDA, BAHASA INGGRIS, dan sebuah ENSIKLOPEDIA tentang kerang-kerang laut.
Sebagai sumber pendapatan untuk membantu anak-anak Panti Asuhan Naungan Kasih dan anak-anak terlantar dalam rangka menunjang program Pemerintah dalam menangani anak-anak terlantar.
Ide untuk membangun sebuah museum pertama kali muncul dalam benak Pater Gabriel Goran, SVD, pada tahun 1990, setelah melihat hasil koleksi biota laut (Mollusca, Pisces, Crustacea, Echinodermata, Reptilia, Alga, dan Coral) yang semakin bertambah sejak inisiatif pribadi tahun 1981. Pada tahun 1993, ide ini menjadi lebih spesifik: membangun Museum Bahari sebagai sumber informasi studi kelautan dan untuk membantu Panti Asuhan Naungan Kasih Ende.
Titik balik terjadi saat pertemuan dengan Bagia Suwira, mahasiswa teknik Universitas Delft Belanda yang sedang KKN di Flores. Mengagumi koleksi di kamar no. 26 Biara St. Yosef, Bagia bertanya, "Dari mana dan untuk apa semua koleksi ini?" Pater Gabriel menjawab, "Ada ide untuk membangun Museum, andai ada pemasukan, hasilnya akan membantu Panti Asuhan Naungan Kasih."
Bagia Suwira menawarkan bantuan dengan membawa 250 gantungan kunci dari siput "Oliva" bibir merah dan 30 lembar dasi kain tenun Ende Lio (dibuat oleh Suster Benedikta CIJ di Panti Asuhan) ke pameran di Belanda. Semua habis terjual, menghasilkan Rp 1.650.000,00.
Pada tahun 1994, Bagia dan kawannya, Andreas Visser, menyerahkan uang tersebut di Panti Asuhan Naungan Kasih. Atas kebijaksanaan Pater, Rp 650.000 diserahkan untuk anak-anak panti, dan Rp 1.000.000 dibawa kembali ke Belanda sebagai saham ke organisasi sosial 'WILDE ANZEN'. Dari promosi organisasi ini, terkumpul dana sebesar Rp 26.000.000,- yang menjadi modal awal pembangunan Museum Bahari.
Pada April 1995, ide ini dibahas dalam Dewan Provinsi SVD Ende di Ledalero. Setelah disepakati kerja sama dengan Pemerintah Daerah Ende, Pater mendekati Bupati, Depdikbud, Dinas Pariwisata, dan DPRD. Permohonan disetujui dalam sidang DPRD Maret 1995 di lokasi Jalan Moh. Hatta, Kelurahan Kota Raja.
12 Maret 1996: Upacara peletakan batu pertama oleh Bupati Ende.
14 Agustus 1996: Upacara peresmian oleh Bupati Ende, Bapak Frans Gedowolo. Sejak saat itulah Museum Bahari resmi dibuka untuk umum.
Sejak November 1996, Kalianus Nusa Nipa mulai bekerja di museum. Awalnya difasilitasi oleh Mama Sisilia, Pater Gabriel membantu melunasi tunggakan sekolah Kalianus yang sempat putus sekolah, dengan upah pertama Rp 2.500. Kalianus bekerja membantu Pater setiap sore dan hari libur.
Setelah lulus SLTA (1999), Kalianus tetap bekerja dengan upah seadanya, bahkan terkadang hanya diberi makan dan minum, bersama anak-anak panti asuhan lainnya yang bekerja sukarela. Pada 2003, karena gagal kuliah akibat biaya, Kalianus sempat hijrah ke Bali tanpa pamit. Namun, pada akhir 2010, saat Pater Gabriel terserang stroke berkepanjangan, Pater menelepon dan memintanya kembali.
Kalianus kembali pada Desember 2010. Januari 2011 - 2013, Pater menyerahkan kunci museum kepadanya. Pada 11 November 2012, Kalianus mendapat Surat Kuasa dari Alm. Pater Gabriel Goran, SVD untuk menjalankan pengelolaan museum secara internal maupun eksternal.
Untuk mendapatkan legalitas kelembagaan dari Serikat Sabda Allah (SVD), Kalianus berkomunikasi dengan Pater Provinsial baru, Pater Jose Emanuel Embu, SVD. Pada 5 Agustus 2023, ditandatangani Surat Pernyataan Kepemilikan Aset Museum Bahari atas nama Kalianus Nusa Nipa oleh Provinsial SVD Ende.
Pada masa kepemimpinan Bapak Derson Duka (Kadis Pariwisata), diterbitkan SK Bupati Ende No. 343/KEP/HK/2016 sebagai Pengelola Museum Bahari. Terhitung 01 Oktober 2025 sampai 30 September 2026, diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) oleh Bupati Ende (Nomor: KEP.968.1.800/9400.422/PP/IX/2025) pada Bidang Pembinaan Ketenagaan – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Koleksi biota laut terhimpun dari hasil penelitian Pater Gabriel Goran, SVD, terutama dari Kabupaten Lembata (Kecamatan Ile Ape), serta Kabupaten Ende, Ngada, Sikka, dan luar negeri (Filipina, Kanada, Selandia Baru). Partisipasi masyarakat setempat dalam menyumbangkan limbah biota laut sangat membantu, baik langsung maupun melalui perantara.
Museum Bahari Ende - Ngera Shells telah memiliki legalitas Sertifikat Hak Merek yang sah, melindungi identitas dan karya yang dihasilkan.
Lambang Garuda yang terbuat dari limbah cangkang Siput dan Kerang Laut.
Karya Asli: Kalianus Nusa Nipa
(Tempatkan foto karya di sini pada file HTML Anda dengan tag: <img src="assets/img/karya-garuda.jpg" class="img-responsive" alt="Karya Kalianus Nusa Nipa">)
Selaku Penggagas, Pendiri, dan Pemilik Museum Bahari Ende
Pengalaman yang sangat mendidik dan memukau. Anak-anak saya sangat terkesan dengan koleksi cangkang raksasa dan penjelasan dari pemandu yang ramah.
Sebagai mahasiswa, museum ini adalah harta karun data dan spesimen yang luar biasa. Koleksi fosil dan klasifikasinya sangat lengkap untuk referensi.
Salah satu koleksi cangkang moluska terbaik di Indonesia Timur. Dedikasi Pater Gabriel dan tim dalam melestarikan warisan bahari sangat patut diacungi jempol.
Bantu kami mewujudkan pembangunan fisik Museum Bahari Ende "Ngera Shells". Setiap kontribusi Anda, sekecil apapun, sangat berarti untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya bagi generasi mendatang.
Setelah melakukan transfer, mohon konfirmasi melalui WhatsApp agar kami dapat mencatat dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Anda.